BERAWAL sebagai pengrajin anyaman, kemudian beralih menjadi distributor produk anyaman. Kini, Suhartono mampu membantu kehidupan 200 kepala keluarga yang berprofesi sebagai pengrajin anyaman.
Profesi pengrajin anyaman dilakoni Suhartono hanya beberapa bulan. Dalam waktu relatif singkat, dia bisa memperoleh tawaran membuat produk anyaman senilai Rp1,3 juta per bulan.
Lelaki kelahiran Pemangkalan, 23 Maret 1972 ini rupanya tidak puas dengan hanya berprofesi sebagai pengrajin. Pikirnya, mengapa tidak mencoba memperoleh penghasilan lebih jika memang mampu mendapatkan lebih dari yang dia dapatkan selama ini.
Saat merintis menjadi pengrajin pada 1998, Suhartono bercerita, kala itu banyak buyer dari Amerika Serikat, Jepang dan negara asing lainnya memesan produk anyaman, seperti keranjang sampah dan alas piring serta gelas, pada dirinya maupun ke pengrajin anyaman lain. Dia memulai nasib di Jalan Taman Sari Nyurbaya Gawah Batu Mekar, Lingkar, yang berjarak 15 km dari kota Mataram, NTB.
Pria berperawakan tinggi dan gagah ini melihat prospek usaha yang bagus di kerajinan ini. Maka, dia memutuskan beralih dari seorang pengrajin menjadi seorang distributor anyaman. Lantas, ia meminjam modal kepada orangtuanya senilai Rp10 juta.
"Kalau menjadi pengrajin kan penghasilannya begitu-begitu saja. Kalau menjadi distributor, selain membantu pemasaran produk para pengrajin, saya juga bisa memperoleh lebih banyak penghasilan," jelasnya dalam logat Mataram.
Rupanya, Suhartono tidak salah ambil keputusan. Hanya beberapa bulan, ia berhasil mendapatkan langganan dari Hong Kong yang memesan produk hingga Rp17,5 juta.
Pesanan produk dari pembeli asing terus mengalir. Pembeli itu berasal dari Amerika Serikat, Spanyol, dan Jepang. Rata-rata mereka memesan dua kali dalam setahun dengan jumlah pemesanan sekitar Rp15- Rp95 juta. Dalam setahun, Suhartono mampu menawarkan produk hingga Rp200 juta per tahun.
Produk- produk yang dipasarkan Suhartono yakni produk anyaman seperti cinderamata untuk pernikahan, keranjang sampah, keranjang tempat pakaian kotor, alas piring dan gelas.
Bahan baku pembuatan produk ini berasal dari rumput ketak sejenis rotan yang berada di hutan Kalimantan, Flores, dan Sumbawa.
"Selama ini orang hanya tahu produk anyaman berasal dari rotan. Maka itu, saya coba memasarkan produk di mana orang awam melihatnya produk yang masih baru," tuturnya.
Tidak hanya ke konsumen asing, Suhartono juga memasarkan ke konsumen lokal. Menurutnya, saat ini masyarakat Indonesia mulai tertarik terhadap produk anyaman.
Beberapa tahun lalu, saat dia mengadakan pameran di Jakarta, konsumen lokal menilai bahwa harga yang ditawarkan Suhartono terhadap suatu produk sangatlah mahal.
Belum lama dia mengadakan pameran di Jakarta. Terlihat adanya minat yang tinggi dari konsumen lokal terhadap produk anyaman ini.
"Sebelumnya konsumen lokal menilai keranjang pakaian kotor sangat mahal jika dihargai Rp500 ribu. Sekarang, mereka mau memberi tawaran lebih dari Rp500 ribu untuk produk itu. Ini karena mereka mengerti bahwa produk anyaman ini berbeda dengan produk anyaman yang terbuat dari rotan," papar suami Mawaryanti (26).
Sistem pemasaran yang Suhartono terapkan adalah sistem jemput bola. Artinya, ia memasarkan melalui pameran, dan menitipkan produk anyamannya di hotel-hotel yang berada di Bali dan Lombok.
Karena seringnya mengikuti pameran, namanya telah tercatat di Badan Pengembangan Ekspor Nasional di Jakarta. Bahkan, pada Pameran Inacraft 2005, dia menempati peringkat ke-14 untuk produk anyaman bakul dan peringkat ke-15 untuk produk tempat buah dari 100 produk unggulan ekspor.
Walaupun namanya telah berada di jajaran produk unggulan ekspor. Suhartono belum berani go international. Pernah, pada pertengahan Mei lalu, dia ditawari mengikuti pameran di Jepang tanpa dipungut biaya.
Karena tawaran tersebut gratis, dia setuju. Keinginan bapak dua anak ini, Dian Eka Purnamasari (9) dan Arinur Nabil Hidayat (3), buyar tatkala seorang penyelenggara memintanya membayar Rp5 juta untuk biaya administrasi.
"Biaya Rp5 juta hanya untuk proses administrasi, belum dengan biaya lain seperti Rp2 juta untuk ongkos saya dari Mataram ke Jakarta lalu biaya untuk sewa pemandu bahasa di Jepang," keluhnya.
Baginya, biaya administrasi tersebut sangat menghambat pemasaran. Dia ingin supaya pemerintah bisa memangkas proses birokrasi seperti ini.
"Saya kan masih tergolong pengusaha kecil jadi belum mampu untuk mengeluarkan duit Rp5 juta. Saya juga ingin belajar bahasa asing supaya tidak ada kendala dalam berkomunikasi dengan konsumen. Jadi tidak perlu membawa guide dan bisa mengurangi ongkos produksi. Mungkin, suatu hari nanti saya akan ikuti pameran internasional," harapnya. (rhs)
www.iklanpengusaha.com