Senin, 08 Oktober 2007
Suhartono : Sukses Tanpa Go International
Profesi pengrajin anyaman dilakoni Suhartono hanya beberapa bulan. Dalam waktu relatif singkat, dia bisa memperoleh tawaran membuat produk anyaman senilai Rp1,3 juta per bulan.
Lelaki kelahiran Pemangkalan, 23 Maret 1972 ini rupanya tidak puas dengan hanya berprofesi sebagai pengrajin. Pikirnya, mengapa tidak mencoba memperoleh penghasilan lebih jika memang mampu mendapatkan lebih dari yang dia dapatkan selama ini.
Saat merintis menjadi pengrajin pada 1998, Suhartono bercerita, kala itu banyak buyer dari Amerika Serikat, Jepang dan negara asing lainnya memesan produk anyaman, seperti keranjang sampah dan alas piring serta gelas, pada dirinya maupun ke pengrajin anyaman lain. Dia memulai nasib di Jalan Taman Sari Nyurbaya Gawah Batu Mekar, Lingkar, yang berjarak 15 km dari kota Mataram, NTB.
Pria berperawakan tinggi dan gagah ini melihat prospek usaha yang bagus di kerajinan ini. Maka, dia memutuskan beralih dari seorang pengrajin menjadi seorang distributor anyaman. Lantas, ia meminjam modal kepada orangtuanya senilai Rp10 juta.
"Kalau menjadi pengrajin kan penghasilannya begitu-begitu saja. Kalau menjadi distributor, selain membantu pemasaran produk para pengrajin, saya juga bisa memperoleh lebih banyak penghasilan," jelasnya dalam logat Mataram.
Rupanya, Suhartono tidak salah ambil keputusan. Hanya beberapa bulan, ia berhasil mendapatkan langganan dari Hong Kong yang memesan produk hingga Rp17,5 juta.
Pesanan produk dari pembeli asing terus mengalir. Pembeli itu berasal dari Amerika Serikat, Spanyol, dan Jepang. Rata-rata mereka memesan dua kali dalam setahun dengan jumlah pemesanan sekitar Rp15- Rp95 juta. Dalam setahun, Suhartono mampu menawarkan produk hingga Rp200 juta per tahun.
Produk- produk yang dipasarkan Suhartono yakni produk anyaman seperti cinderamata untuk pernikahan, keranjang sampah, keranjang tempat pakaian kotor, alas piring dan gelas.
Bahan baku pembuatan produk ini berasal dari rumput ketak sejenis rotan yang berada di hutan Kalimantan, Flores, dan Sumbawa.
"Selama ini orang hanya tahu produk anyaman berasal dari rotan. Maka itu, saya coba memasarkan produk di mana orang awam melihatnya produk yang masih baru," tuturnya.
Tidak hanya ke konsumen asing, Suhartono juga memasarkan ke konsumen lokal. Menurutnya, saat ini masyarakat Indonesia mulai tertarik terhadap produk anyaman.
Beberapa tahun lalu, saat dia mengadakan pameran di Jakarta, konsumen lokal menilai bahwa harga yang ditawarkan Suhartono terhadap suatu produk sangatlah mahal.
Belum lama dia mengadakan pameran di Jakarta. Terlihat adanya minat yang tinggi dari konsumen lokal terhadap produk anyaman ini.
"Sebelumnya konsumen lokal menilai keranjang pakaian kotor sangat mahal jika dihargai Rp500 ribu. Sekarang, mereka mau memberi tawaran lebih dari Rp500 ribu untuk produk itu. Ini karena mereka mengerti bahwa produk anyaman ini berbeda dengan produk anyaman yang terbuat dari rotan," papar suami Mawaryanti (26).
Sistem pemasaran yang Suhartono terapkan adalah sistem jemput bola. Artinya, ia memasarkan melalui pameran, dan menitipkan produk anyamannya di hotel-hotel yang berada di Bali dan Lombok.
Karena seringnya mengikuti pameran, namanya telah tercatat di Badan Pengembangan Ekspor Nasional di Jakarta. Bahkan, pada Pameran Inacraft 2005, dia menempati peringkat ke-14 untuk produk anyaman bakul dan peringkat ke-15 untuk produk tempat buah dari 100 produk unggulan ekspor.
Walaupun namanya telah berada di jajaran produk unggulan ekspor. Suhartono belum berani go international. Pernah, pada pertengahan Mei lalu, dia ditawari mengikuti pameran di Jepang tanpa dipungut biaya.
Karena tawaran tersebut gratis, dia setuju. Keinginan bapak dua anak ini, Dian Eka Purnamasari (9) dan Arinur Nabil Hidayat (3), buyar tatkala seorang penyelenggara memintanya membayar Rp5 juta untuk biaya administrasi.
"Biaya Rp5 juta hanya untuk proses administrasi, belum dengan biaya lain seperti Rp2 juta untuk ongkos saya dari Mataram ke Jakarta lalu biaya untuk sewa pemandu bahasa di Jepang," keluhnya.
Baginya, biaya administrasi tersebut sangat menghambat pemasaran. Dia ingin supaya pemerintah bisa memangkas proses birokrasi seperti ini.
"Saya kan masih tergolong pengusaha kecil jadi belum mampu untuk mengeluarkan duit Rp5 juta. Saya juga ingin belajar bahasa asing supaya tidak ada kendala dalam berkomunikasi dengan konsumen. Jadi tidak perlu membawa guide dan bisa mengurangi ongkos produksi. Mungkin, suatu hari nanti saya akan ikuti pameran internasional," harapnya. (rhs)
www.iklanpengusaha.com
Waltono : Mitos Pengusir Nyamuk Malah Datangkan Untung
Waltono, pengusaha kerajinan akar wangi membuktikan hal itu. Tujuh tahun silam, lelaki yang akrab disapa Tono ini hanya seorang pemuda yang hampir putus asa karena tak kunjung memperoleh pekerjaan yang layak.
Di tengah hilangnya asa itu, salah seorang saudaranya yang berkecimpung di kerajinan akar wangi kewalahan melayani pesanan. Kemudian menawarinya untuk terlibat di usaha ini.
Intuisi Tono memberikan sinyal pangsa pasar kerajinan ini terbilang bagus. Apalagi, di masyarakat Indonesia ada mitos yang mengatakan bahwa akar wangi adalah salah satu bahan natural pengusir nyamuk.
Berangkat dari pemikiran itu, dia pun menyambut positif tawaran tersebut. Kemudian, Tono diajari bagaimana membentuk akar wangi menjadi suatu produk hiasan. Waktu terus bergulir, keahlian Tono terus terasah. Saat ini, lelaki kelahiran Bantul, 12 Mei 1977 ini mampu menciptakan boneka, becak, kura-kura, pohon natal hingga ukuran dua meter yang berasal dari akar wangi.
Produk buatannya seperti boneka dan kura-kura dihargai Rp1.500- Rp20.000. Sementara pohon natal ukuran 50 centimeter hingga dua meter senilai Rp40.000-Rp500.000.
Di pasar lokal, kerajinan Tono juga diminati oleh hotel-hotel berbintang terutama di kota Bali. Sementara di pasar internasional, produknya merambah hingga Yunani, Perancis, Australia, dan Inggris.
walto2.jpgMenurut suami Rina Anggraeni (37) ini, kerajinan akar wangi diminati oleh konsumen asing karena mereka menilai kerajinan ini adalah kerajinan natural yang unik. “Bentuknya ‘lucu’ dan wangi,” katanya kepada okezone.
Pada 2003, Tono membuka showroom di Jalan Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Daerah Kasongan memang terkenal akan kerajinan alam, banyak konsumen asing yang berdatangan ke daerah itu.
Dari situlah dia mampu memasarkan produknya. Predikat pemuda pengangguraan mulai meninggalkannya. Kini, omzetnya mencapai sekira Rp25 juta per tahun. Padahal, dia hanya mengeluarkan modal awal sekira Rp2 juta.
Tak hanya disitu, pasang surut usaha pernah menghadang Tono. Dia sempat kehilangan Showroomnya. Mengakali ini, dia selalu menyempatkan diri mengikuti pameran kerajinan. “Melalui pameran, kita bisa memperluas pemasaran,” tegas ayah tiga anak ini, Sony Antono Putra (7), Afrizal Dwi Saputra (5), dan Afreno Saputra (2) ini.
Menurutnya, kini pengrajin akar wangi telah berkurang karena pangsa pasar telah berkurang. “Ekonomi sedang sulit jadi pembelian juga berkurang,” ujarnya.
Melihat kondisi itu, Tono tetap optimis usahanya akan masih bisa berkembang. Apalagi, dia meyakini masih banyak ide yang belum digarap. ”Dalam menjalankan usaha yang terpenting adalah telaten dan berkompetisi secara fair,” ujarnya dengan yakin.
Mengenai kendala teknis, Tono mengeluhkan kelangkaan bahan baku terutama pada musim hujan. Pada masa itu tanah basah terguyur hujan, akibatnya akar pohon ikutan basah. Sehingga jumlah pasokan bahan baku berkurang hingga 30 persen.
Sementara itu, dalam mempekerjakan karyawannya, Tono menggunakan sistem borongan. Setiap pesanan, dia mempekerjakan hingga 25 pegawai. Menurutnya, sistem ini lebih efektif karena mereka dibayar sesuai jumlah produk yang mereka hasilkan. “Mereka juga lebih giat memproduksinya,“ paparnya.
Tono juga tidak ragu mempekerjakan pegawai lepas ini. Menurutnya, hampir seluruh penduduk Kasongan familiar dengan kerajinan alam. Sehingga, mereka paham tata cara membuat produk kerajinan akar wangi. ”Ide berasal dari saya sementara mereka yang mengerjakan teknik pembuatannya,” tuturnya.
Saat ini, keinginan Tono adalah memiliki showroom. Ia juga ingin menciptakan produk yang lebih fungsional, seperti tatakan gelas, tudung saji (penutup makanan) yang terbuat dari akar wangi. “Produk saya tidak hanya untuk hiasan tapi juga bisa digunakan,” harapnya. (rhs)
www.iklanpengusaha.com
Ken Sudarto : Legenda Periklanan Indonesia
Dia tokoh periklanan Indonesia. Bahkan pantas digelari legenda hidup periklanan Indonesia. Ken, panggilan akrab Kenneth Tjahjady Sudarto, salah seorang perintis periklanan Indonesia. Pendiri Matari Advertising, ini memulai usahanya dari garasi di kawasan Cideng sampai memiliki gedung megah Puri Matari di segitiga emas Kuningan.
Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005.
Ken meninggal setelah setahun lebih berjuang melawan penyakit lymphoma (kanker kelenjar getah bening). Dia meninggalkan seorang isteri, Sylvie Febryanti Sudarto, dan tiga anak Michael Dirgo Sudarto, Glenn Ario Sudarto dan Cynthia Anggraini Sudarto, serta tiga orang cucu Allegra Divya, Alexa Kirana, dan Tristan Ario.
Jenazah Presiden Komisaris Kelompok Matari Advertising itu tiba di Bandara Soekarno Hatta dari Singapura sekitar pukul 20.00, Sabtu 5 November 2005. Selanjutnya dibawa ke Puri Matari di kawasan Kuningan. Di sana para karyawan dan staf memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, iring-iringan mobil jenazah menuju ke rumah almarhum di Jl Kemang Timur IV. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat.
Tampaknya, sampai ajal menjemputnya dia terus berjuang. Sebelum meninggal, dari CCU Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Ken mengirim SMS kepada stafnya berbunyi: ”Hidup adalah bagaikan bendera perang. Kadang-kadang berkibar megah, menantang. Kadang-kadang kotor, robek-robek, dan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi harus tetap dipertahankan dengan gagah berani, sampai ke tangan Tuhan”.
Perjuangannya dalam dunia periklanan dimulai dari garasi di kawasan Cideng dengan dua orang pegawai. Sebelum mendirikan Matari (Agency Representative Matari Advertising, 1970-1971), Ken meniti karir sebagai Manager US Summit Corporation (1964-1968), Wiraswasta (1968-1969) dan Staf Lokal Ubersee Handel AG (1969-1970). Kemudian sejak 1971 dia menjabat Presiden Direktur Matari Inc, perusahaan periklanan yang semula bekerjasama dengan Mark Lean Advertising. Setelah dua tahun kemudian memisahkan diri.
Kemudian Matari sepenuhnya menggunakan tenaga ahli Indonesia, karena menganggap merekalah yang lebih mengenal negeri ini. Modalnya juga domestik.
Sempat mengalami masa sulit tahun 1975-1976, lantaran dia mencoba berspekulasi di luar bidang periklanan. Lalu mendapat bantuan dari klien lama. PT Astra dan Konimex dengan membayar di muka, serta harian Sinar Harapan dan Surabaya Post bersedia menunda penagihan. Ditambah lagi suntikan modal dari Paul Karmadi, temannya sejak kecil, dengan membeli 30% dari seluruh saham.
Perusahaan ini kemudian berkembang pesat., menjadi biro iklan paling lengkap di Indonesia. Matari Inc ini memiliki studio foto, amphi-theater, studio rekaman modern, perpustakaan, dan fasilitas komputer.
Juga memiliki kantor di gedung sendiri, Puri Matahari berlantai empat, di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Serta mempekerjakan sekitar 200 karyawan.
Biro iklan ini setidaknya melayani sekitar 30-an klien setiap tahun. Di antaranya Toyota, Mitsubishi, Honda, Daihatsu, SIA, Cathay, Garuda, Fuji, Kodak, National, Sony, ITT, Unilever, BCA, dan lain-lain. Dari setiap klien, Matari menarik agency fee 15%sampai 20%.
Sulung dari lima bersaudara (Ken, Imelda, Berty, Liza dan Bambang), putera dari So Ping Hian (ayah) dan Setiawati K Sudarto (lo Bie Lan, Ibu) pedagang kelontong, ini lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942. Mengecap pendidikan SR, Jalan Sabang, Jakarta (1954), SMP Kanisius, Jakarta (1957) dan SMAK I, Jakarta (1960).
Sempat kuliah di FE UI, Jakarta, sampai tingkat IV, 1965. Kemudian belajar manajemen (Smaller Company Management Program) di Harvard Business School, AS (1982), Indonesian Senior Executive Program VI di Insead-Fountain- Bleau, Prancis (1981) dan Managing Strategic Changes di Imede-LPPM, Jakarta (1981).
Penggemar musik klasik dan pop serta olahraga jogging, renang, dan bulu tangkis, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005. Disemayamkan di rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat. Setelah dilakukan Misa Requiem, tiga hari berturut-turut, 6, 7 dan 8 November 2005, jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu 9 November 2005, pukul 09.30 Wib.
Ketika banyak perusahaan belum menyadari arti penting dari suatu visi dan misi perusahaan, ia telah menciptakan Panca Cita Matari yang akan menjadi suluh penerang bagi perjalanan bisnisnya. Panca Cita ini diberlakukan pada saat Matari berusia sembilan tahun dan Ken Sudarto berusia 38 tahun.
Kelima cita yang menjadi pematok langkah Matari sarat dengan idealisme, profesionalisme, dan semangat kekeluargaan. Cita pertamanya: Berpartisipasi dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab. Pendiri Matari sangat menyadari sebagai perusahaan yang beroperasi di negara berkembang, perusahaan ikut bertanggung jawab dalam upaya perwujudan suatu masyarakat Indonesia yang sejahtera, kami akan secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan nasional, terutama dalam bidang periklanan.
Cita kedua: Mengabdi kepentingan masyarakat. Kegiatan Matari dalam bidang periklanan akan dilakukan secara kreatif, menciptakan karya yang bermutu, jujur, serasi dengan lingkungan, sehingga sungguh-sungguh mencerminkan pengabdian kepada kepentingan masyarakat.
Cita ketiga: Menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan. Dari awal Matari dirancang sebagai suatu keluarga besar yang dipadukan dalam satu organisasi bisnis. Di mana perusahaan akan senantiasa memperjuangkan terciptanya suasana kerja yang sesuai dan menyenangkan menuju peningkatan taraf ketrampilan dan kehidupan.
Cita keempat: Menghasilkan pendapatan yang dapat membiayai pengembangan dan kelangsungan hidup perusahaan. Berikutnya demi kelangsungan hidupnya perusahaan, menjadi penting untuk terus menerus mengusahakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan laba untuk para pemegang saham, serta melakukan investasi untuk perluasan usaha.
Cita kelima: Memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Untuk menjamin adanya kegairahan dan ketentraman kerja, perusahaan akan memberikan imbalan yang wajar serta kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuan kami masing-masing.
Kelima cita ini telah menjadi pembimbing tindak dari Matari Advertising dalam setiap langkahnya. "Panduan semacam ini memungkinkan Matari memiliki nilai-nilai ideologis yang akan terus membimbingnya ke masa depan," tutur Aswan Soendojo, yang menerima tongkat estafet untuk melanjutkan kepemimpinan di Matari.
Perjalanan Matari Advertising sesungguhnya mencerminkan perjalanan industri periklanan Indonesia. Banyak terobosan penting di industri periklanan muncul dari kiprah Matari, khusus lagi dari tangan Ken Sudarto. Ketika ia memutuskan untuk lengser dari Matari, bulan Maret lalu, maka menjadi penting bagi kami untuk menuliskan suatu commemorative report mengenai kiprahnya di industri periklanan. Tanpa sentuhan tangannya, majalah yang kini Anda pegang mungkin tak akan pernah lahir ke dunia.
(source : www.tokohindonesia.com)
Purdi E Chandra : PRIMAGAMA
Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara "tak resmi" Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.
Bisnis "resminya" sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa "tidak mendapat apa-apa" ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.
Dengan "jatuh bangun" Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).
Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.
Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.
Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber : www.purdiechandra.com)
Wawancara dengan Majalah BERWIRAUSAHA 22-09-200
Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. "Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja," ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.
Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.
"Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha," tambah 'konglomerat bimbingan tes' itu.
Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta. Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi 'berdakwah' tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. "Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur," ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA.
Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama Jakarta.
Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?
Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.
Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart.
Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.
Apa itu?
Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%.
Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu...
Apa artinya street smart?
Cerdas di jalanan.
Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.
Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?
Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.
Setuju dengan pemikiran Kiyosaki "If you want to be rich and happy, don't go to school" ?
Kalau saya if you want to be rich and happy, ya.... Kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha. Penelitian di Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar.
Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.
Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?
Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan. Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.
Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?
Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang.
Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?
Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?
Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.
Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. 'Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!'. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel.
Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual bell handphone.
Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan...
Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.
Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?
Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya.
Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100 milyar, kan?
Rasionalnya di mana?
Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, "Jangan dihitung terus!" Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.
Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko...
Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.
Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?
EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.
Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?
Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.
Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?
Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.
Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?
Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang "di atas". Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa.... Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi.
Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang.
Bangkit
Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah “penglihatan pemikiran” yang selama ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari "impian-Nya".
Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.
Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot menyeduhnya di rumah.
Tetapi perlu kiranya dibedakan antara "mendambakan" dan "memimpikan". Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.
Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.
Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan.
Penglihatan Pikiran
Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi.
copy from VISI MANDIRI INDONESIA